Cacing Cau — Dunia Baru

February 5, 2008

Ketika Cinta Menghujam Dan Terlupa.

Filed under: Karya Tulis
Taken from http://anencefali-stock.deviantart.com/art/A-stock-Portrait-in-profile-54111255“Semua kembali terjadi, apa yang selama ini terdiam. Tidak cukup puas, semua pun bergeliat dan kembali membuka sebuah luka lama, ia yang pernah aku tinggalkan kini kembali. Jalan cahaya seakan menghilang dari hadapan, seakan sekejap lalu terdiam sebuah busur penyelamatan yang siap dihujamkan namun kenapa kini semua pupus dalam sekejap seakan semua yang selama ini telah aku lakukan berakhir sampai disini. Tinggallah sebuah prakata indah terdiam salam sesaat cinta belaka, nafsu amarah dan cinta.”

Bila cinta yang pernah hadir tiada kembali, apa yang kamu lakukan?

 

“Pernah terjadi sebuah cahaya hati dalam diriku sampai semua pernah kembali seakan sendiri itu lebih baik, biarkan berlalu menghina masa lalu yang bahagia, kini biar mawar kembali menghitam.”

Haruskah semua terlupa ?

 

“Palingkan mata hati kedalam bejana cinta, biarkan aku menunggu.”

Apakah cinta patut untuk ditunggu ?

 

“Pecah kesunyian dalam mati hasrat hati dengan membiarkan secercah cahaya tenggelam dalam asa. Lalu matahari kembali bersinar dengan cahayanya yang hitam.”

Harapan , menunggu

 

“Berjalan dengan berpaling kebawah, keatas dan kemana dia tiada berada.”

Hilang

 

“Mati bersama asa.”

Die.

Karya : Danies Pahlevi 

Note : Blog Juga Hasil Karya, Please do respect , if you like it just write comment 

 

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://cacau.blogsome.com/2008/02/05/ketika-cinta-menghujam-dan-terlupa/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ian Main