Sebuah Pengakuan Dosa Seorang Terhina (part II)
Kali itu aku melihat sebuah cahaya, hangat terasa dalam dingin malam berhujan, menghampiri diri seakan malaikat yang mendekat yang menghilangkan rasa sakit luka ini walau hanya sesaat, itu yang ada dibenakku, walau seringnya mereka hanya ingin merasakan kenikmatan sesaat saja dan seakan tuli untuk mendengarkan kesulitan hidup.Tiba tiba seorang hidung belang melambai seraya berkata, “Ayo de masuk, hujan diluar”, aku sontak menjawab dengan harap besar kepadanya, “Iya mas, terima kasih.. ”, dia pun menawarkan untuk menginap disebuah losmen yang berjarak tidak jauh dari sana kira-kira tiga kali menaiki tanjakan jalan bila menggunakan sepeda, tiada kutolak ajakan dia, demi beberapa lembar uang, aku kembali memberikan kehangatan malam kepada orang lain selain ayah tiriku dulu. Malam ini terasa panjang rasanya tetesan tangisan langit masih terdengar membasahi langit-langit losmen, aku masih dengan dia, seakan ikut iba langit kepadaku hujan pun semakin lebat. Tiada dia mengasihi aku dengan menghentikan semua yang ia lakukan, hanya ada keganasan yang semakin menjadi. Bukan ini yang aku inginkan, namun lintah darat itu akan memaksaku berbuat apabila tiada sajian uang yang ku berikan malam ini. Teringat pertamakali aku diantarkan oleh kedua orang tuaku, pikirku aku hanya akan bekerja oleh mereka, bekerja dengan pikiran dan tenaga, memang dengan tenaga, tetapi tiada terpikir olehku ini yang mereka sebut dengan bekerja.
TO BE CONTINUED……..

Wah konotasi-nya kok jadi suram Nies. Tulisan mu dibuat paragraf dong, biar bacanya enak. Ditunggu lanjutannya
Comment by za — October 8, 2007 @ 1:39 pm