Sebuah Pengakuan Dosa Seorang Terhina (part I)
Malam kelam menyelimuti diri, sebut aku Dira. Hanya manusia hina hidup dimalam hari. Itulah diriku semua orang mengakuinya dengan seakan menutup mata kepadaku. Ditengah persimpangan jalan aku berdiri menunggu mangsaku tiba. Memang seakan tidaklah adil dunia, memperlakukanku bak aku adalah anak tirimu, aku bahkan hampir tidak dapat mengingat kenapa aku sampai disini. Teringat beberapa tahun yang lalu aku hanyalah anak sekolah menengah pertama bisa, sampai ketika itu kedua orang tua ku berhutang kepada seorang lintah darat karena hobi berjudi mereka, sehingga mereka tega menjual diri anak kandungnya demi sebuah pertaruhan yang disebut judi, walaupun begitu aku merasa sudah terbiasa dengan perlakuan senonoh mereka, ayahku bukan ayah kandungku dia terbiasa memperlakukanku demikian, selagi ibu berjudi dikota. Dulu aku menganggap hal itu merupakan hal yang biasa dilakukan anak perempuan kepada ayahnya.
Lampu jalan mulai meredup ketika jalan mulai dibasahi air hujan, aku hanya bisa berteduh dibalik dedaunan diantara pepohonan dipersimpanagan itu. Aku tidak dapat meninggalkan tempat ini, tidak sekarang.
TO BE CONTINUED…….
